Globalisasi dan Penguatan Sektor Pendidikan

Globalisasi membutuhkan fleksibelitas dalam memformat pendidikan. Kebiajkan yang longgar  menata dunia pendidikan tergantung pada tuntutan zaman. Strategi “adoption and adaptation”  yang melihat situasi dan kondisi yang ada.  Kebijakan “tune in situation in education”  ini dalam teori ekonomi ini dikenal dengan  terminologi “ex ante” dan “ex post”.

Dunia pendidikan harus bisa  terus melakukan koreksi, revisi, reformasi, restorasi atas berbagai ideologi, visi, misi, strategi tergantung keadaan yang ada. Terlepas sisi infrastruktur, kurikulum, finansial dan kesejahteraan para  guru, sisi penguatan kapasitas institusional dan personal menjadi hal yang utama dan pertama.

Landasan philosofis pendidikan harus berada dalam kerangka visioner prospektif pembangunan Kota Batam yakni “Mewujudkan Batam sebagai Bandar Dunia Madani, dan Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Nasional”.

Apa yang menjadi fokus dari Kota Batam yang ideal dan tidak utopis ini adalah : (a). Kota yang merefleksikan sisi ethik-humanisme dalam pembangunan (guru mempunyai posisi stratejik, fatal dan vital), (b). Kota yang mengedepankan sisi rasionalitas dalam pembangunan (the logics of development) dalam planologi kota. Guru dalam konteks ini berada dalam pengarustamaan pembangunan (the mainstream of development) bukan sisi pinggiran (pheriperal model of development).  (c). Kota yang menempatkan sisi ekologi dalam pembangunan (eco-city) sebagai prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable developmenty). Dalam pembangunan yang menempatkan sisi spiritual-transedental ini dikenal pula dengan “eco-theological perspective on development”.

Jelas guru mengambil peran dalam mendidik dan setiap tahapan di proses pembelajaran terutama yang relevans dengan perspektif pentingnya kebijakan pelestarian lingkungan khususnya mempersiapkan kota masa depan bagi generasi muda yang didik, (d).  Kota bertaraf dunia yang tentunya berbagai standar, protokol pergaulan dan ethika dalam prilaku berhubungan (codes of conducts) harus saling menghargai dan percaya (confidence building measures).  Guru dalam konteks ini, khususnya yang berdomisili di Kota Batam harus siap memahami akan dimensi dan spektrum pergaulan internasional, minimal di kalangan negara ASEAN dan Asia serta Australia.  (e). Sebagai Kota yang diantara 329 buah pulaunya terdapat tujuh pulau berstatus FTZ (Free Trade Zone) dan FPZ (Free Port Zone), maka paar guru harus pula memahami sisi dasar ekonomi dan praktek perdagangan dalam skala lokal, nasional, regional dan global. Tentunya penguasaan bahasa asing (Inggris dan Mandarin) misalnya serta memahami berbagai iklim investasi (business like and economic culture and financial principles) menjadi pra-syarat utama (condicio sine qua-non) untuk masuk ke dalamnya. (f). Batam akan menjadi kota yang terbuka atas segala persaingan. Apalagi FTZ memiliki roh “free fight capitalism”-dimana persaingan bebas dalam berbagai sektor menjadi bagian  dari memperkuat basis pembangunan nasional.

Untuk itu para guru  berada di dua posisi penting di masa kini (kita menjadi bagian dari arus globalisasi itu sendiri) dan pada saat dan kondisi yang sama harus mempersiapkan generasi muda masuk ke episentrum utama arus globalisasi di masa mendatang.  Insya Allah kita memhaminya.


About this entry