Globalisasi Pendidikan Merugikan Indonesia

  Kendari (Lampost/Ant): Rektor Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari, 
Prof. Mahmud Hamundu, mengatakan globalisasi pendidikan hanya akan 
menguntungkan negara maju. Oleh karena itu, Indonesia jangan menerima 
globalisasi pendidikan itu.

      "Dilihat dari kepentingan nasional, globalisasi pendidikan itu lebih 
banyak ruginya daripada untungnya. Jadi sangatlah tepat kalau Forum Rektor 
Indonesia (FRI) menolak keras pelaksanaan globalisasi pendidikan di Indonesia," 
katanya di Kendari, Senin (29-11).

      Menurut dia, kalau Indonesia menerima globalisasi pendidikan, pasti akan 
membawa konsekuensi yang sangat luas dalam pelaksanaan pendidikan. Karena dalam 
berbagai hal, pendidikan nasional masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di 
negara-negara maju.

      Pendidikan di Indonesia akan makin terpuruk jika menerima globalisasi 
pendidikan. Sebab, masyarakat nantinya akan lebih berkiblat pada lembaga 
pendidikan yang diselenggarakan negara-negara luar.

      "Para pengajar profesional di berbagai perguruan tinggi di Indonesia bisa 
jadi pula akan ikut hijrah mengajar pada lembaga pendidikan yang didirikan 
negara luar. Sebab, mereka tergiur tawaran penghasilan yang jauh lebih besar," 
kata dia.

      Di sisi lain, kata Mahmud, lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan 
negara luar, belum tentu mau memasukkan mata kuliah yang sangat mendasar dalam 
pendidikan nasional, seperti mata kuliah Pancasila dan Agama dalam kurikulum 
mereka.

      Menurut Rektor, memang akan ada aturan yang mengikat lembaga pendidikan 
yang diselenggarakan negara luar itu. Namun, hal itu tidak menjamin mereka akan 
tunduk pada aturan. Sebab, dengan kekuatan yang mereka miliki, bisa saja aturan 
itu dilanggar.

      "Negara-negara maju itu menguasai segalanya. Mereka menguasai teknologi, 
pendidikan, ekonomi, informasi, dan keuangan. Jadi apa saja bisa mereka 
lakukan, termasuk dalam melanggar aturan yang ada," kata Mahmud.

      Ia juga khawatir kalau Indonesia menerima globalisasi pendidikan, 
kesiapan masyarakat dalam menerima pengaruh budaya luar yang dibawa melalui 
lembaga pendidikan yang mereka dirikan di Indonesia.

      Selain itu, tidak tertutup kemungkinan lembaga pendidikan yang didirikan 
negara maju di Indonesia, akan menjadi perpanjangan tangan untuk memasukkan 
kepentingan mereka.

      Mengenai adanya anggapan dengan menerima globalisasi pendidikan akan 
memacu kompetisi dengan pendidikan nasional, ia mengatakan, itu sulit terjadi. 
Sebab, bahasa dasar pendidikan di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.

      "Kalau Filipina atau Malaysia mungkin saja karena bahasa dasar pendidikan 
di kedua negara itu menggunakan bahasa Inggris. Indonesia masih butuh waktu 
lama untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pendidikan," 
katanya.

      Minim Pendaftar

      Sementara itu, perkuliahan program Magister Ekonomi Pertanian/Agrobisnis 
Universitas Lampung (Unila) baru akan dimulai Januari mendatang. Hal ini karena 
masih minimnya mahasiswa yang mendaftar.

      Sekretaris Program Magister Agrobisnis Zainal Abidin, Senin (29-11), 
mengatakan pihaknya telah menambah waktu pendaftaran dari jadwal yang sudah 
ditentukan hingga 30 September lalu. Namun, hingga kini mahasiswa yang 
mendaftar baru 10 orang dan belum memenuhi kuota yang diharapkan. Hal tersebut 
dikarenakan kurangnya publikasi program tersebut ke masyarakat.

      Selain itu, minimnya pendaftar pada program yang baru dibuka 2004-2005, 
menurut dia, karena singkatnya waktu pendaftaran terkait baru keluarnya surat 
izin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Agustus lalu. 
"Sehingga waktu pendaftaran yang seharusnya dibuka awal September terpaksa baru 
bisa dilaksanakan pertengahan September karena program tersebut masih sibuk 
melakukan persiapan-persiapan," ujar dia.

      Oleh karena itu, panitia yang disetujui Rektor Prof. Muhajir Utomo akan 
terus membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa yang ingin mendaftar hingga 
Desember mendatang. Zainal mengharapkan target mahasiswa bisa terpenuhi 
menjelang dimulainya matrikulasi yang juga akan dimulai Desember mendatang. 
"Sedangkan awal kuliah kemungkinan baru dimulai Januari mendatang," kata dia.

      Mengenai keterlambatan waktu kuliah dibandingkan program studi yang lain, 
menurut Zainal, hal tersebut tidak menjadi masalah. Sebab, saat memulai 
perkuliahan awal nanti jadwal kuliah akan dipadatkan sehingga tidak akan 
tertinggal. "Kami akan mengejar supaya jadwal tatap muka 16 kali bisa terpenuhi 
dan selanjutnya bisa menyesuaikan dengan kalender akademik Unila," ujar dia.

      Menurut Zainal, program studi yang diketuai Prof. Ali Ibrahim Haysim, 
mantan Dekan Pertanian, memiliki prospek yang baik. Sebab, program ini dinilai 
sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Program ini juga didukung pengajar yang 
berpengalaman. Selain dosen-dosen Pertanian Unila seperti Dr. Bustanul Arifin, 
Dr. Wan Abbas Zakaria juga akan ditambah pengajar dari IPB dan pengajar dari 
universitas negeri lainnya. n Via/S-4

About this entry