Menuju Era Globalisasi Dunia Pendidikan Dengan Bedah Tema

Sebagai suatu entitas yang terkait dalam budaya dan peradaban manusia, pendidikan di berbagai belahan dunia mengalami perubahan sangat mendasar dalam era globalisasi. Ada banyak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa dinikmati umat manusia. Kemajuan di bidang teknologi informasi memang banyak memberi kemudahan bagi kita saat ini. Melalui berbagai media elektronik ( televisi dan internet ), setiap detik kita dibanjiri dengan berbagai informasi dari berbagai belahan dunia.

Kebutuhan akan informasi tidak hanya dirasakan oleh kita sebagai pendidik, tetapi juga dirasakan oleh siswa-siswi kita. Mereka dengan mudah dan cepat dapat mengakses semua informasi yang diinginkan. Perkembangan peradaban kehidupan manusia secara perspektif menuntut kecakapan hidup sebagaimana trend kebutuhan dalam era global saat ini. Karena, siapa pun yang menjauhkan diri dari gegap gempitanya dunia teknologi informasi ini akan ditinggal oleh arus perubahan, dan akan masuk ke dalam kategori gologan primitive. Oleh sebab itu, kita sebagai pendidik perlu meningkatkan kualitas diri dalam hal kepribadian dan juga kemampuan pedagogis kita.

Memasuki tahun ajaran 2009/2010 ini, SMP Tarsisius Vireta mengadakan program bedah tema/diskusi tematik yang membahas tentang kepribadian dan metode pembelajaran. Mengapa harus bedah tema bukan bedah buku? Hal ini dimaksudkan agar para guru lebih banyak membaca buku yang berkaitan dengan tema yang diangkat sehingga dapat memperkaya dan menambah wawasan mereka. Tema kepribadian dan metode pembelajaran digunakan karena dianggap sebagai tema yang paling cocok untuk meningkatkan kualitas guru sebagai pendidik dan juga menambah wawasan para guru dalam mencari metode yang tepat dalam proses pembelajaran.

Bedah tema  dilaksanakan satu bulan sekali pada minggu ketiga. Dan dalam setiap minggunya menampilkan dua panelis. Masing-masing panelis mempunyai judul yang berbeda yang diangkat dalam diskusi, namun tetap satu tema. Sebagai contoh pada tema pembelajaran panelis pertama membahas tentang pembelajaran kooperatif dengan metode Jigsaw, sedangkan penulis kedua membahas tentang pembelajaran kooperatif dengan menggunakan metode STAD (Student Team Achievement Division). Kedua panelis tersebut mengangkat judul yang berbeda untuk menambah variasi metode mengajar sehingga  kegiatan belajar mengajar di kelas tidak monoton, karena tugas kita sebagai guru tidak hanya memberikan catatan, dan memberikan latihan.

Begitu juga dengan tema kepribadian. Diangkatnya tema kepribadian dalam diskusi secara tidak langsung merubah cara berpikir kita akan suatu masalah. Misalnya dalam menghadapi suatu masalah biasanya kita yang hanya mencari siapa yang salah, tetapi setelah mengikuti diskusi tematik kita jadi lebih berpikir mencari solusi terhadap masalah yang terjadi dibanding mencari siapa yang salah.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam, dengan masing-masing panelis harus mempresentasikan makalahnya selama 15 menit di hadapan para guru, kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab tentang materi yang bersangkutan, berlangsung dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme yang diberikan oleh bapak ibu guru SMP Tarsisius Vireta.

Pada awalnya ada beberapa orang guru yang merasa terbebani oleh kegiatan bedah tema ini, karena mereka merasa “dipaksa” untuk membaca buku tentang kepribadian dan pembelajaran yang mungkin mereka kurang tertarik dengan tema tersebut terutama untuk pembelajaran karena mereka sudah cukup puas dengan apa yang sudah mereka terapkan dalam proses pembelajaran selama bertahun-tahun. Tetapi seiring berjalannya waktu mereka menyadari akan pentingnya membaca buku, terutama buku-buku yang berhubungan dengan kedua tema tersebut. Karena selain untuk menambah wawasan kita tentang kepribadian juga menambah pengetahuan kita tentang metode-metode pembelajaran yang dapat kita terapkan dalam KBM.

Melalui kegiatan diskusi bedah tema ini banyak sekali manfaat yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menangani permasalahan pribadi guru, anak, dan proses KBM di kelas. Selain itu, kegiatan ini dapat membuat kita menjadi lebih percaya diri, kritis dalam menghadapi suatu masalah.

Dengan demikian melalui kegiatan ini diharapkan guru-guru dapat menjadi pendidik yang professional sehingga dapat menghasilkan anak-anak yang siap bersaing dalam era globalisasi ini.


About this entry